Senin, 02 Mei 2011

Koreksi Minyak Akan Berlanjut

Minyak catatkan penurunan terdesar dalam dua minggu akibat ekspektasi terbunuhnya Osama bin Laden dapat kurangi risiko gangguan pasokan di Timur Tengah. Presiden AS Obama telah konfirmasi kematian pemimpin Al-Qaeda tersebut selama pertempuran di Abbottabad, Pakistan. Ini makin perdalam penurunan harga Minyak yang juga tertekan oleh berkurangnya tenaga pertumbuhan ekonomi Cina, konsumen minyak terbesar kedua dunia.

"Kematian Osama bisa menjadi pemicu bearish karna dapat kurangi ketakutan menularnya kerusuhan di Timur Tengah," ungkap Stephen Schork, petinggi The Schork Group. "Sekarang, pasar miliki alasan untuk koreksi turun signifikan."

Minyak juga tertekan oleh turunya indeks manufaktur Cina di bulan April. Indeks PMI manufaktur tergelincir menjadi 52.9, lebih rendah dari prediksi 54.0 dan publikasi Maret 53.4. "Turunnya indeks manufaktur dapat isyaratkan perlambatan pertumbuhan ekonomi yang juga berarti berkurangnya konsumsi minyak," papar Jonathan Barrat, petinggi Commodity Broking Services. Pertumbuhan permintaan minyak di Asia akan melambat pada semester kedua tahun ini akibat tingginya harga bahan bakar yang lukai permintaan konsumen, tulis JPMorgan Chase.

Rebound USD Temporer, Prospek Masih Suram

Dollar AS mengalami penguatan tipis terhadap major currencies di hari Senin setelah pihak resmi Amerika membenarkan bahwa pimpinan Al Qaeda, Osama bin Laden tewas dalam serangan oleh pasukan A.S di luar kota Islamabad, Pakistan.
Namun secara umum untuk jangka panjang, indeks Dollar yang menjadi tolak ukur dollar AS terhadap 6 mata uang utama dunia, masih terjerembab di level terendah sejak Juli 2008. Kondisi ini terutama terkait masih melambatnya perekonomian AS sehingga mendorong pihak Federal Reserve A.S untuk terus mempertahankan program stimulusnya serta menahan suku bunga terus di level rendah.

Pertumbuhan ekonomi AS kuartal pertama melambat ke 1,8% pada tingkat tahunan dari 3,1% kuartal sebelumnya.

Sementara spekulasi bahwa bank sentral China akan membiarkan apresiasi mata uang yang lebih cepat guna membendung inflasi telah mendorong Yuan melampaui 6,5 per Dollar untuk pertama kalinya sejak tahun 1993, kondisi ini pun turut mengikis dollar A.S