Senin, 30 Januari 2012
Facebook Akan Menjual Saham Dalam Waktu Dekat
Penawaran saham perdana (IPO) terbesar sepanjang sejarah AS hampir rampung. Facebook kemungkinan akan meluncurkan IPO nya pada minggu depan.
Facebook berencana untuk mengirimkan dokumen yang diperlukan untuk IPI pada hari Rabu ini. Penawaran tersebut akan memberikan nilai pada perusahaan jejaring sosial terbesar dunia ini kira-kira sebesar $75 milyar s.d $100 milyar.
Analis mengekspektasikan IPO dapat mengumpulkan dana sebesar $10 milyar untuk Facebook, dan akan menduduki peringkat 4 IPO yang pernah diluncurkan di AS, masih dibawah Visa Inc, General Motor Co dan AT&T Wireless. Namun IPO Facebook ini melampaui penawaran saham perdana Google pada tahun 2004 yang hanya mengumpulkan dana sebesar $1.9 milyar pada waktu itu.
Website Facebook sendiri dalam 8 tahun terakhir berhasil menarik 800 juta member, dan telah merubah cara orang berkomunikasi secara global. Pendapatan facebook terutama didapatkan dari iklan bisnis, yang dilaporkan melonjak dari $738 juta selama 2009 menjadi $3.8 milyar pada 2011. Jumlah karyawan yang bekerja pada Facebook hingga saat ini mencapai 3,000 orang.
Di lain sisi, valuasi akhir Facebook masih ditentukan oleh berbagai faktor, seperti misalnya permintaan investor untuk social media maupun kondisi pasar IPO dan juga kesehatan laju ekonomi Eropa.
IPO Facebook ini juga akan menjadi ujian bagi CEO Mark Zuckerberg, yang baru berumur 27 tahun untuk mengelola perusahaan global, dimana kinerja keuangannya akan selalu dipantau per 3 bulan oleh para investor.
Penjualan IPO akan dipimpin oleh Morgan Stanley, yang sekaligus menduduki underwriter saham internet paling berpengalaman karena sebelumnya telah memimpin IPO LinkedIn Corp, Groupon Inc dan Zynga Inc.
Emas Terkoreksi Dari Titik Tinggi 7-Pekan Menanti Negosiasi Yunani
Emas diperdagangkan melemah di hari Senein setelah sempat menanjak ke level tinggi 7-pekan seiring para investor menunggu hasil negosiasi utang Yunani, namun pertumbuhan yang lebih lambat di AS dibanding estimasi telah melukai sentimen.
Para pemangku kebijakan Eropa, akan menandatangani perjanjian dana penyelamatan permanen untuk zona Eropa di hari Senin ini, diekspektasikan menyetujui peraturan anggaran yang seimbang pada negara anggota. Di lain sisi, problem yang belum terselesaikan di Yunani masih membayangi sentimen positif.
Katalis negatif lain adalah laporan pertumbuhan ekonomi AS, selama Q4 dirilis lebih rendah dibanding estimasi sehingga memicu koreksi emas dari level terkuatnya sejak 8 Desember di $1739 per troy ons. Terpantau sejauh ini Emas melorot -1.15%, ke level $1718 per troy ons.
Spanyol Menuju Resesi
Pertumbuhan GDP Spanyol mengalami kontraksi sebesar -0.3% selama Q4, masih sesuai estimasi dan turun dari level 0% selama Q3. Dengan level pengangguran tertinggi diantara negara member Uni Eropa lainnya serta kondisi kredit yang merosot. Spanyol kini terancam mengalami resesi kedua sejak 2009.
Laporan GDP yang dirilis oleh Bank of Spain ini menunjukkan bahwa ekonomi Spanyol masih menuju resesi. Di sisi lain angka pengangguran Spanyol telah mencapai level 22.85%, sekaligus merupakan angka pengangguran tertinggi diantara negara Uni Eropa lainnya.
Pemerintah sendiri, masih berupaya meyakinkan para investor bahwa mereka mampu mereduksi defisit lebih dari setengahnya pada tahun ini meskipun resesi maish membebani pendapatan dan angka pengangguran.
Berdasarkan estimasi dari IMF, ekonomi Spanyol mungkin masih akan mengalami kontraksi sebesar -1.7% sepanjang 2012 dan dilanjutkan kontraksi sebesar -0.3% selama 2013. Proyeksi ini memberi gambaran bahwa target defisit pemerintah Spanyol pada 4.4% dari GDP tahun ini akan sulit dicapai.
Sentimen Eropa Redam Bursa Regional
Sebagian besar pasar regional bergerak melemah dengan Nikkei -0.5%, S&P/ASX -0.4%, HSI -0.9%, Kospi -1.2%, Taiex +2.4%, Sensex -1.3%, Shanghai Composite -1.0%. Di pasar forex, euro melemah terhadap USD dan JPY dikarenakan tertundanya kesepakatan mengenai swap hutang antara Yunani dan kreditor sektor swasta yang menekan sentimen mata uang tunggal.
EUR/USD di 1.3150 dari 1.3219 hari Jumat malam di New York, EUR/JPY di 101.01 dari 101.45, dan USD/JPY di 76.70 dari 76.69. Perdana menteri China, Wen Jiabao mengatakan pihak otoritas akan menjaga agar yuan tetep berada di level yang "masuk akan dan seimbang". Menteri keuangan Australia, Wayne Swan mengatakan pertumbuhan jumlah pekerja melamban dan ia telah menghapus pandangan bahwa angka pengangguran Australia akan meningkat. Menteri keuangan Korea Selatan, Bahk Jae-wan mengatakan ketidak pastian ekonomi akan mencapai puncaknya pada Q1. Hal ini mengindikasikan bahwa selama periode Januari - Maret mungkin akan mejadi periode yang paling lemah bagi negara dengan ekonomi terbesar ke empat Asia. Current account surplus Korea Selatan bulan Desember menjadi $3.96 miliar, turun dari level tinggi 13 bulan di bulan November di $4.56 miliar. Jepang membukukan defisit perdagangan senilai Y916.17 miliar untuk 10 hari pertama bulan Januari dibandingkan dengan defisit tahun lalu sebesar Y435.62 miliar. Angka GDP Q4 Filipina tumbuh 3.7% per tahun, naik dari revisi pertumbuhan 3.6% di Q3 namun di bawah ekspektasi pertumbuhan sebesar 4.0%.
Harga emas di $1,727.90, turun $6.40 dari level penutupan NY. Minyak Nymex bulan Maret turun 66 sen menjadi $98.90/barrel.
Ramai-ramai Tolak Bonus Tahunan
Trend penolakan 'hadiah' tampaknya sedang terjadi di kalangan eksekutif sektor perbankan global. Beberapa CEO perusahaan besar sudah memutuskan untuk tidak menerima insentif dari pendapatan usaha tahun buku.
Chief executive Royal Bank of Scotland Group PLC (RBS) berencana menolak bonus senilai 1 juta poundsterling ($1,5 juta). Sang bos tidak ingin hadiah yang diterimanya menjadi perdebatan di antara publik dan politisi. Sebagian besar kepemilikan RBS sendiri ada di tangan pemerintah Inggris sehingga keputusan pemberian bonus juga dipengaruhi oleh restu perwakilan pemerintah dalam direksi. Krisis finansial tahun 2008-2009 memaksa negara membantu pendanaan salah satu korporasi perbankan terbesar di Britania itu. Jumlah bailout 3 tahun silam mencapai 45 miliar poundsterling, dengan kompensasi 82% saham kepada pemerintah.
RBS kemarin menyatakan bahwa chief executive Stephen Hester tidak akan menerima insentif saham senilai 3,6 juta lembar saham senilai nyaris 1 juta poundsterling (963.000 poundsterling). Saham tersebut merupakan hadiah yang diberikan oleh dewan direksi pekan lalu. Adapun gaji yang diterima oleh Hester tahun 2011 sudah mencapai 1,2 juta poundsterling.
Kabar penolakan Hester menyusul kabar serupa hari Sabtu. Presiden RBS, Phillip Hampton juga enggan menerima bonus saham senilai 1,4 juta poundsterling. "Sikap ini merupakan tanggung jawab Stephen Hester terhadap uang rakyat yang ditanamkan di RBS," ujar Menteri Keuangan George Osborne. Pemberian bonus oleh dewan direksi RBS sendiri dipandang sebagai tamparan di wajah Perdana Menteri Inggris, Davis Cameron, yang beberapa keli mengcam keras pemberian bonus dalam jumlah besar di tengah keterpurukan ekonomi. Meski demikian, sikap pribadi Hester dan Hampton bisa menjadi inspirasi bagi direksi perusahaan sejenis, terutama yang pernah di-bail out oleh pemerintah. Aksi simpatik dan kepekaan pelaku bisnis Eropa sangat dinantikan oleh warga yang mayoritas sedang mengalami masa sulit.
Bailout Yunani Belum Pasti: Schauble
Menteri Keuangan Jerman, Wolfgang Schaubke mengatakan hari Senin ini bahwa zona Eropa mungkin tidak akan menjamin bahwa Yunani akan mendapatkan dana bantuan tambahan, kecuali negara tersebut melakukan langkah-langkah yang dipersyaratkan untuk memperbaiki sistem keuangan dan ekonominya.
“Kecuali Yunani menerapkan keputusan yang diajukan dan tidak hanya mengumumkan keputusan tersebut…tidak akan ada sejumlah dana yang diberikan guna menyelesaikan masalah (Yunani tersebut)”, dikatakan Schauble dalam sebuah wawancara dengan The Wall Street Journal yang dipublikasikan hari ini. Minggu lalu, para petinggi Jerman mengumumkan gagasan untuk menunjuk badan komisi anggaran Eropa dengan hak veto untuk anggaran Yunani.
Evangelos Venizelos, Menteri Keuangan dan Wakil Perdana Menteri Yunani, mengatakan hari ini bahwa tindakan yang disebutkan oleh para petinggi dari Jerman tersebut tidak perlu dilakukan. Schauble juga membantah gagasan untuk bailout yang lebih besar dan mengatakan bahwa pemerintahnya melakukan yang terbaik untuk membantu pertumbuhan (ekonomi) di Jerman.
Langganan:
Postingan (Atom)





