Monexnews - Program pemangkasan anggaran seharusnya membawa perbaikan dalam keseimbangan neraca keuangan suatu institusi, termasuk sebuah negara. Namun ketika gelembung defisit sudah terlalu bengkak, dibutuhkan waktu lebih lama untuk mewujudkannya.
Anomali seperti ini tengah dialami oleh Yunani, negara dengan beban hutang berlapis. Rangkaian program pemangkasan yang dicanangkan pemerintah tidak kunjung menuai efek nyata. Dana Moneter Internasional akhir tahun lalu mengatakan bahwa dibutuhkan kombinasi kebijakan ampuh untuk menekan rasio hutang terhadap rasio Yunani menjadi 120% pada 2020. Di antaranya mencakup penghapusan nilai obligasi yang dipegang swasta sampai 50% dan pendanaan berbunga rendah senilai 130 miliar euro.
Kalkulasi ala IMF mungkin terdengar kaku. Nyatanya, kondisi perekonomian Yunani justru memburuk seiring waktu. GDP Yunani kemungkinan turun sebanyak 6% tahun lalu, atau lebih parah dibanding perkiraan. Artinya, makin berat pula perjuangan Yunani untuk mecapai target fiskal yang ditetapkan otoritas Eropa. Sistem perbankan negara itu juga relatif sepi aktifitas. Bank Sentral Yunani melaporkan bahwa penyaluran kredit ke rumah tangga dan perusahaan turun 2,4% hingga bulan November. Menandai betapa sektor perbankan kekeringan dana.
Aksi lambat pemerintah dalam memupus defisit membuat pejabat Eropa ragu dengan kehandalan program reformasi Athena. Tidak heran jika tahun lalu Yunani naik ke peringkat 100 dalam daftar 183 negara paling tidak layak untuk berbisnis (sumber: World Bank). 'Prestasi' ini kian menggambarkan potret buruk ekonomi negara itu pasca program pemangkasan. Harus diakui bahwa masalah negara ini tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Di tengah angka pengangguran yang menembus 18%, Yunani masih memiliki beban defisit neraca 10% dari angka GDP (lihat grafik). Artinya, daya saing Yunani berkurang karena tingkat produksi dalam negeri tidak mampu mengimbangi konsumsi impor. IMF mengatakan pemerintah butuh lebih dari satu dasawarsa untuk menjadi lebih kompetitif.
Beredar asumsi bahwa lebih baik bagi Yunani untuk keluar dari zona euro. Dengan kembali memakai valuta drachma, negara ini bisa terbebas dari tekanan deflasi pendapatan. Namun normalisasi daya saing diyakini sangat menyakitkan. Mungkin hanya sektor pariwisata saja yang pertama kali diuntungkan oleh kebijakan keluar dari euro. Ekonomi akan sangat menderita meski akan berbahagia di masa depan. Membangun legitimasi suatu mata uang baru jauh lebih sulit dibanding melakukan devaluasi nilai. Disrupsi dan konflik administrasi rentan terpicu karena peralihan valuta dalam negeri. Restrukturisasi berbagai kontrak berbasis denominasi euro akan memakan waktu tahunan. Yunani bisa menghadapi hiperinflasi yang berujung pada situasi 'kegagalan berdaulat'. Tidak heran jika sebanyak 70% warga masih ingin tetap bertahan dengan penggunaan valuta euro. Jika berkaca pada kepentingan ekonomi Eropa, warga kecil dan perbankan, Yunani memang harus diselamatkan meski pengobatannya harus memakan tenaga besar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar