Jumat, 27 Januari 2012

Kospi Ditutup Positif



Kospi ditutup naik 0.4% menjadi 260.20, dikarenakan aksi beli yang terus dilakukan oleh investor asing memasuki sesi ke 12. Saham finansial menguat dengan Hana Financial +3.8% menjadi KRW39,950 setelah pemberitaan bahwa pihak regulator keuangan Korea akan mengkaji ulang pembelian saham sebanyak 51.02% di KEB dari Lone Star; KEB ditutup naik 1.5% menjadi KRW8,150.
Diantara saham yang gain, Samsung Electronics ditutup +1.1% menjadi KRW1,125,000 setelah melaporkan kenaikan tahunan untuk Q4 sebesar 17% sementara LG Display +2% menjadi KRW28,550 akibat ekspektasi kerugian yang lebih rendah dari perkiraan. Saham auto melemah, dengan Hyundai Motor ditutup turun 3.5% menjadi KRW221,000. Kia Motors -2.8% menjadi KRW67,100 setelah membukukan penurunan laba bersih Q4 sebesar 3.5%. 

Minyak Kembali Merapat ke Psikologis $100



Futures minyak mentah New York kembali menjajaki peluang menuju psikologis $100 hari ini (27/01). Kemarin, minyak mentah sempat melonjak akibat pelemahan nilai tukar dollar.
Minyak mentah untuk pengiriman bulan Maret naik 7 sen atau 0,1% ke $99.77 per barel di New York Mercantile Exchange. Pada sesi Kamis kemarin, minyak mentah ditutup naik 0,3%. Sementara itu, kontrak gas alam Maret menguat 3 sen ke $2.64 dan minyak bahan bakar Februari flat di $2.85. Berdasarkan grafik Reuters, minyak saat ini berkutat di $99.66 per barel.

Akhir Pekan, Bursa Asia Mix



Hari ini (27/01) pasar saham regional berperforma mix dengan Nikkei turun 0.1%, S&P/ASX +0.4%, HSI -0.1%, Kospi +0.4, Sensex +0.3% dan STI -0.1%. Pasar China dan Taiwan libur.
Di pasar forex, USD terus melemah terhadap JPY setelah hari Rabu (25/01) bank sentral menyatakan menahan suku bunga tetap di level rendah hingga akhir tahun 2014. EUR/USD di 1.3100 dari 1.3109 hari Kamis malam di New York, EUR/JPY di 100.92 dari 101.52, dan USD/JPY di 77.03 dari 77.46. RBNZ diharapkan akan menangani imbas dari krisis hutang di Eropa namun bank lokal diharapkan dapat menangani masalah ini, menurut gubernur bank sentral, Allan Bollard. Hanya sedikit anggota BoJ mensinyalkan bahwa BoJ terbuka untuk melakukan langkah pelonggaran moneter jika krisis hutang Eropa terus membebani kondisi finansial dan ekonomi Jepang, menurut hasil rapat pada 20-21 Desember. CPI Desember bulan Desember turun 0.1%, naik tipis dibandingkan dengan penurunan bulan November sebesar 0.2% dan sesuai dengan prediksi pasar penurunan sebesar 0.1%. Penjualan ritel bulan Desember Jepang naik 2.5%, lebih tinggi dari kenaikan bulan November sebesar 2.2%. Surplus perdagangan Selandia baru bulan Desember menjadi NZ$338 juta vs defisit bulan November sebesar NZ$307 juta, mematahkan ekspektasi defisit sebesar NZ$65 juta. 
Harga emas di $1,718.00, turun $2.50 dari harga penutupan NY. Minyak Nymex bulan Maret naik lima sen menjadi $99.75/barrel.

Pihak Pengembang HK Turut Nikmati Kebijakan the Fed



Kampanye suku bunga rendah yang dicanangkan Federal Reserve Bank turut berdampak ke luar Amerika. Kebijakan serupa kemungkinan besar turut diambil oleh negara ekonomi lain guna menopang laju pertumbuhan.
Pelaku bisnis Hong Kong, khususnya sektor developer, berpeluang meraup keuntungan lebih pasca penetapan suku bunga Amerika Serikat (AS). Negara ini mematok nilai tukarnya terhadap dollar, jadi sebagian besar kinerja kursnya juga sangat ditentukan oleh kebijakan moneter Washington.
Suku bunga sangat rendah akan menggairahkan pasar properti dan kredit pinjaman kepemilikan rumah. Bunga KPR di Hong Kong kemungkinan besar tidak bergeming dari level 4-5% sepanjang 2012. Alasan tersebut bisa memacu minat beli warga, yang cenderung dipengaruhi oleh prospek suku bunga KPR. Meski ada potensi penetapan besaran bunga yang berbeda oleh bank komersial, rasio penyesuaiannya diyakini tidak jauh dari level saat ini.
Sejak tahun 2000, suku bunga mortgage Hong Kong berada dalam kisaran sempit sekitar 3 poin persentase di atas bunga acuan bank sentral. Tidak heran jika industri properti wilayah itu berkembang pesat dalam satu dasawarsa terakhir. Kondisi ini belum akan berubah, setidaknya sampai 2014, jika mengacu pada komitmen suku bunga the Fed. Perbaikan minat beli hunian sama artinya dengan peluang melaba bagi pihak developer. Tingkat pendapatan 2012 bisa meningkat, demikian pula dengan harga saham perusahaan berbasis properti.

Nikkei Didera Aksi Ambil Untung



Setelah mencapai level harga ideal di pertengahan pekan, indeks Nikkei akhirnya dihantam profit taking. Indeks utama Jepang terpantau anjlok nyaris setengah persen di tengah aksi jual jangka pendek.
Nikkei bertengger di 8813.63 atau minus 0,4% dibanding catatan pada pertengahan hari. Investor menarik diri jelang pertemuan penting Uni Eropa hari Senin mendatang. Dengan demikian, posisi indeks cenderung turun menjelang akhir pekan sementara potensi buy on dips masih terbatas.
Beberapa saham yang anjlok antara lain Kyocera minus 2.3% ke Y6,490 dan Honda Motor yang turun 2.2% ke level Y2,682. Elpida Memory mencetak kejatuhan besar sampai 7.1% pada level Y338 pasca laporan kerugian operasional. Advantest minus 2.9% ke Y726 dan Fujifilm Holdings anjlok 1.7% ke Y1,990. Tokyo Electron melemah 0.3% ke Y4,325 dan Nippon Steel merugi 2.5% ke Y196.

Mengukur Efektifitas Quantitative Easing



Pelonggaran moneter atau lazim dikenal dengan Quantitative Easing (QE) adalah kebijakan modern yang berpengaruh besar terhadap pasar investasi. Istilah QE I, II dan III identik dengan patron program yang diberlakukan oleh bank sentral Amerika Serikat. Tapi sesungguhnya bukan Ben Bernanke dan kolega yang mempelopori konsep QE untuk kali pertama.
Pelonggaran moneter menjadi langkah alternatif saat kebijakan konvensional dinilai tidak mampu mendorong roda perekonomian. Dalam hal ini, langkah penyesuaian suku bunga dinilai sudah optimal namun kondisi makro belum membaik. Bank Sentral mengimplementasikan QE dengan membeli aset keuangan atau obligasi, bertujuan untuk menyuntik dana segar ke dalam perekonomian. Dengan mengoleksi aset finansial dari bank dan sektor swasta (pencetak uang elektronik), maka jumlah uang yang beredar di lini bisnis jadi lebih banyak. Tambahan dana berarti tambahan modal bagi pelaku aktifitas ekonomi.
Seiring perkembangan iklim bisnis dan pengaruh eksternal, mekanisme peluncuran QE juga semakin kompleks. Jepang adalah negara pertama yang mempelopori prinsip QE modern di akhir 1990-an hingga 2006. Pada masanya, Bank of Japan (BOJ) menyuntik dana ke pos cadangan uang yang disimpan oleh bank-bank komersial di bank sentral. Berbagai elemen masyarakat, mulai dari investor, pengamat hingga pejabat negara sempat meragukan efektifitas kebijakan itu. Bahkan merebak asumsi jika langkah BOJ rentan menghancurkan sistem perbankan sendiri. Di awal periode 2000-an, QE memang belum mampu menekan deflasi domestik. Di tengah suku bunga super-low 0.25%, BOJ membanjiri perekonomian dengan limpahan dana pinjaman. Merasa kurang efektif , BOJ kemudian memutuskan untuk membeli lebih banyak obligasi pemerintah, sekuritas berbasis aset dan saham serta memperpanjang masa pembelian surat komersial.
Apakah QE ala Jepang berhasil? Jika mengacu pada tingkat pertumbuhan ekonomi, rasio kenaikan angka GDP Jepang memang naik konsisten antara 2002 hingga periode 2007 (lihat grafik). Kinerja GDP jauh lebih baik ketimbang apa yang dicapai pemerintah di awal 1990-an, beberapa saat setelah kasus penggelembungan aset melanda negara tersebut.


Mengacu pada argumen Tomoya Masanao, anggota Asia-Pacific Portfolio Committee, pemulihan kinerja perbankan Jepang sangat dipengaruhi oleh kebijakan QE bank sentral. Kombinasi antara suku bunga rendah dan penurunan risiko premium berhasil mengangkat aktifitas bisnis dan investasi. Kondisi ini berimbas pada kenaikan upah riil, yang kemudian berperan memperbaiki daya beli konsumen. Kesimpulannya, QE mampu mendorong volume permintaan dalam negeri. Anggota Dewan Gubernur Bank of England, David Miles, turut mengamini pendapat Masanao. Miles melihat QE tidak hanya memajukan aktifitas keuangan, namun turut menopang ekonomi warga, usaha kecil, pabrik dan pendapatan rumah tangga.



Meski demikian bukan berarti langkah pelonggaran kuantitatif tidak mengandung kelemahan dan potensi negatif. Sistem murni perbankan bisa menjadi mandul saat bank-bank lebih memilih untuk bertransaksi dengan bank sentral ketimbang dengan sesama kolega perbankan. Senior ekonom BOJ, Shigenori Shiratsuka memiliki beberapa catatan penting terkait pengalamannya memandu implementasi QE Jepang. Pertama, QE melibatkan neraca keuangan bank sentral untuk melindungi perekonomian dari gejolak yang mungkin ada. Ke dua, sifatnya hanya sementara. QE difungsikan sebagai alat untuk mengulur waktu sampai sistem dan lembaga perbankan kembali menemukan ritme operasionalnya. Bank juga harus terlebih dahulu me-restrukturisasi neracanya masing-masing supaya tidak tergantung pada kebijakan otoritas. Ke tiga, intervensi bank sentral di sektor swasta justru memberi distorsi ke pasar.
Secara empiris, QE memang mampu memperbaiki sistem perbankan dan pertumbuhan ekonomi. Namun pengaruhnya hanya efektif bila kondisi perekonomian makro mendukung kepercayaan bank, perusahaan, investor dan konsumen. Pelonggaran moneter di Amerika sesungguhnya belum tentu mampu menggenjot perekonomian. Berbeda dengan kondisi saat QE Jepang, sistem perbankan AS saat ini tidak kekurangan likuiditas. Konsumen juga tidak membutuhkan pinjaman baru, mereka bahkan perlu keluangan untuk melunasi beban hutangnya. Bank dan perusahaan masih terlalu gelisah, terutama pasca kasus subprime mortgage dan krisis antar kawasan. Artinya, AS belum memiliki modal awal yang cukup untuk membangun suatu iklim kondusif bagi semua pelaku ekonomi. Jika pemerintah dan bank sentral sudah berhasil menumbuhkan kepercayaan publik, sejatinya QE akan jadi solusi efektif bagi ekonomi Paman Sam.

IHSG Tergerus Pelemahan Rupiah



Bursa Indonesia melemah 0.1% menjadi 3981.405 dalam volume perdagangan yang tipis. Indeks terbebani oleh pelemahan IDR dan setelah tadi malam (26/01)  saham AS melemah, menurut trader.
Level support indeks utama di 3950. "Aksi profit-taking yang melanda sebagian besar saham perbankan dan telekomunikasi turut mengendalikan indeks utama," menurut trader di Lautandhana Securities. Diantara saham yang mengalami pelemahan, Bank Mandiri (BMRI.JK) -0.7% menjadi IDR6,850 dan Telkom (TLKM.JK) -0.7% menjadi IDR6,950. Inco (INCO.JK) +4.7% menjadi IDR3,925 akibat bargain-buying dan prospek earnings Q4 tahun 2011 yang kuat.

Asia Berbalik Naik!



Setelah sempat memulai perdagangan di pagi hari ini dengan bergerak lemah, sebagian besar bursa Asia bergerak kuat ke area positif, dengan saham-saham perbankan yang mengalami kenaikan di Hong Kong, dan saham-saham perusahaan tambang yang menguat saat bursa Sydney ditutup terkait hari libur.

Indeks Hang Seng naik 0.4% di Hong Kong, saat indeks Nikkei juga menguat 0.2% dan indeks KOSPI diperdagangkan flat.
Penguatan mingguan untuk bursa Hong Kong masih bertahan di level 2.1%, bursa saham jepang telah naik sebesar 1.2% hingga minggu ini, indeks Korea Selatan sendiri naik 0.4% dan indeks Australia juga naik 1.7%.

Sedangkan berdasarkan perhitungan tahunan, pasar masih menunjukkan kinerja yang baik, dengan indeks KOSPI yang naik 7.2% dan indeks Hang Seng yang naik 11.4%.

Potensi Bullion (Masih) Positif



Emas diperdagangkan stabil dekat tingginya selama 4 minggu hari Jumat ini, menuju penguatannya selama 4 minggu saat dollar AS kehilangan kekuatan setelah Federal Reserve mengatakan untuk menahan tingkat suku bunga tetap rendah mendekati nol untuk beberapa waktu.
Spot emas bertambah $1.65 per troy ounce menjadi $1,721.69 setelah naik setingginya $1,729.76 hari Kamis, terkuatnya sejak awal bulan Desember. Emas mencapai rekor tingginya disekitar $1,920 bulan September lalu.
Reli emas yang menembus rekornya di dekade sebelumnya bersiap untuk melanjutkan relinya tahun ini dan tahun berikutnya saat kebijakan moneter masih longgar dan bank sentral yang membangun persediaan cadangan emas, ditunjukkan sebuah survey oleh Reuters.
Kontrak emas AS turun $4.1 per troy ounce menjadi $1,772.60.

Penjualan Kuat, Laba Starbucks Naik 10%



Starbucks melaporkan bahwa laba kuartal I mengalami peningkatan sebesar 10% menjadi $382.1 juta atau sekitar 50 sen, naik dari sebelumnya $346.6 juta atau 45 sen per lembar saham, diperiode yang sama pada tahun 2011. Pendapatan perusahaan naik 16% untuk menuju rekornya sebesar $3.4 miliar. Penjualan global mengalami peningkatan sebesar 9%, tertolong oleh tingginya penjualan pasca liburan, sebuah kenaikan sebesar 7% untuk konsumsi dan 2% untuk pengenaan harga secara rata-rata.
Laporan tersebut mengalahkan perkiraan para analis, menurut FactSet. “Starbucks melaju kuat dan mengambil semua peluang global yang ada yang berada didepannya”, dikatakan CEO, Howard Schultz dalam sebuah pernyataan. Starbucks memperkirakan target laba untuk tumbuh sebesar 10% tahun ini dan berencana untuk membuka cabang sebanyak 800 unit secara global. Starbucks memperkirakan akan mendapatkan pemasukan sebesar $1.78 hingga $1.82 per lembar saham untuk 2012. Saham Starbucks, yang diperdagangkan di level tingginya, mengalami kenaikan sebesar 47% selama 12 bulan terakhir.

Penguatan Yen Kikis Reli 2 Hari



Reli selama 2 hari yang didapat bursa saham Asia dikikis oleh penguatan Yen setelah data penjualan perumahan atau home sales AS secara tidak terduga turun dan Yen menguat terhadap dollar AS, menyingkirkan perkiraan earnings untuk sektor eksportir.
James Hardie Industries SE, sebuah perusahaan penyedia bahan material yang mendapatkan pangsa pasarnya nyaris 70% untuk penjualan di AS, merosot 0.3% di Sydney. Inpex Corp, perusahaan eksplorasi Jepang terbesar, melaju 2% setelah harga minyak mentah dan logam mengalami peningkatan. NEC Corp, sebuah produsen elektronik, turun 7.1% setelah mengatakan bahwa perusahaan tersebut akan memangkas tenaga kerja sebanyak 10.000 dan memperkirakan adanya kerugian untuk kuartal III dalam 4 tahun. Saham Nintendo Co turun 6.2% setelah produsen game tersebut memperkirakan adanya kerugian tahunan yang mencapai lebih dari 3 kali sebelumnya.

Hang Seng Pertahankan Gain Setelah Reli



Bursa saham Hong Kong berusaha untuk mempertahankan penguatan diawal perdagangan hari Jumat setelah naik untuk 5 hari berturut-turut, dan terjadinya penurunan untuk bursa saham AS, dengan melemahnya saham-saham properti dari China mengimbangi laju penguatan saham-saham keuangan. Indeks Hang Seng naik 0.1% menjadi 20,463.46 dan indeks Hang Seng China merosot 0.1% menjadi 11,404.56.
Saham utama dari indeks tersebut, HSBC Holdings PLC naik 0.5% dan saham asuransi AIA Group Ltd naik 1.1% untuk melanjutkan penguatan ditengah adanya indikasi bahwa tingkat suku bunga AS masih akan ditahan rendah lebih lama. Diantara saham-saham yang turun, saham China Overseas Land & Investment Ltd turun 1.9% dan saham Aluminum Corp of China Ltd turun 0.2%, kembali mendapat tekanan profit-taking. Bursa saham Shanghai masih ditutup untuk libur Lunar New Year.

Nikkei Melemah Bersama Perbankan dan Retailer



Bursa saham Jepang kembali turun dari penguatan awal untuk diperdagangkan sedikit melemah hari Jumat, dengan saham-saham retail dan perbankan menyeret turun indeks. Indeks Nikkei turun 0.1% menjadi 8,837.74. Untuk sektor retail, J. Front Retailing Co turun 1.6% dan Fast Retailing Co turun 1.2%.
Data menunjukkan bahwa penjualan untuk sektor retail turun 0.4% di bulan Desember sementara penjualan total retail naik 2.5%. Saham-saham keuangan diperdagangkan turun, termasuk Daiwa Securities Group Inc, yang turun 1.6%. Saham-saham lain yang ikut turun adalah saham Sony Corp, turun 1.6% dan saham Elpida Memory Inc turun 6%.

Yen Tertekan Turun Diawal Pembukaan Tokyo



Yen Jepang telah mengalami tekanan di awal pembukaan pasar Tokyo, merosot lebih dari 20 pips dari sebelumnya 77.45 untuk menembus level rendahnya kemarin dan menyentuh rendah sesi barunya di level 77.25. Pergerakan naik sepertinya masih berusaha diperlihatkan untuk mata uang Jepang, saat para seller kembali mendominasi pasar saat stop order memicu harga ke bawah 77.40.

Menurut Peter Whitley dari IFR Markets: “Seluruh aksi jual diatas 78.00 yang sebelumnya hilang kembali muncul diatas 78.00. Untuk reli pergerakan naiknya, Yen masih mengikuti komentar dari Ben Bernanke, Bahkan saat EUR/JPY bergerak turun setelah order jual diatas 102, tetapi sepertinya pergerakannya sudah terhenti untuk saat ini. Sepertinya kita akan kembali pada intervensi hanya akan berarti sebagai tujuan Yen untuk kembali ke level 80.00”.

Sterling Tertekan Aksi Beli Dollar AS



Sterling telah tertekan diawal perdagangan hari Jumat, setelah anjlok menjadi 1.5660 dari level tinggi sebelumnya di level 1.5693, terakhir berada di 1.5665.
Kejatuhan Sterling terjadi kembali dilatarbelakangi oleh aksi beli dollar AS yang terlihat di pasar mata uang, saat fokus pasar beralih dari proyeksi suku bunga FOMC untuk kembali ke perkembangan Yunani.
Akan tetapi, sinyal bullish masih terlihat, dikatakan Valeria Bednarik, pimpinan analis dari FXstreet.com. “Tetapi, resistance jangka menengah yang kuat berada di area 1.5770: harga penutupan minggu lalu yang berada diatasnya, yang mungkin memberikan dukungan lanjutan menuju level 1.6000 selama beberapa hari kedepan, sementara gagal menembus level diatasnya, seharusnya memicu koreksi menuju 1.5600/20”.
Untuk pergerakan turunnya, level support berada di level 1.5660, 1.5620 dan 1.5590, dengan level resistance 1.5710, 1.5735 dan 1.5770.

Profit Taking Intai Hang Seng



Aksi profit taking mengintai indeks Hang Seng setelah indek menguat hingga 1,427 poin atau 7.5% selama lima sesi terakhir. "Yang akan terjadi hari ini dan beberapa sesi mendatang adalah konsolidasi indeks," menurut William Lo, analis Ample Capital.
Saham blue chips akan diterpa profit-taking terutama saham perbankan China yang sempat memimpin rally indeks ke level tinggi tahunan. Sebagai contoh, ICBC sepanjang tahun 2012 telah gain hingga 20.2% vs gain HSI yang hanya 10.9%. Kemarin (26/01) Hang Seng ditutup turun 1.6% menjadi 20.414.

Dirudung Banyak Masalah, Euro Sulit Naik



Kemarin (26/01) EUR/USD meroket ke level tinggi baru dalam lima pekan di 1.3183 dari level rendah di 1.3090. Penguatan euro terjadi di tengah aksi jual dollar, namun mata uang kemudian kembali melemah tajam dikarenakan hindar resiko yang terstimulasi oleh rilis data perekonomian AS yang menunjukkan penjualan rumah baru yang secara tak terduga menurun 2.2% untuk periode bulan Desember.
“Mata uang memasuki sesi Asia di level yang hampir sama dengan kemarin, dengan grafik harian menunjukkan mata uang bergerak di bawal level SMA 20 dan indikator bergerak di bawah garis tengah,” menurut Valeria Bednarik, kepala analis FXstreet.com. Grafik 4 jam menunjukkan, bias mata uang masih menguat meski indikator tidak cukup kuat dan berada di bawah level overbought.”
Fokus pasar yang kembali tertuju pada Yunani kemungkinan akan menekan pergerakan mata uang. Fokus pasar selanjutnya adalah KTT Uni Eropa dan progres dari pertemuan. "Dengan banyaknya ketidak pastian atas masa depan krisis hutang Eropa, euro kemungkinan terus melemah.   
EUR/USD di 1.3100, dengan level support di 1.3045 dan 1.3000 dan level resistance di 1.3120, 1.3145 dan 1.3170.

Optimisme Fed Pudar, Saham Terkoreksi



Bursa saham AS ditutup turun pada hari Kamis menyusul laporan penjualan rumah baru yang mengecewakan dan seiring memudarnya antusiasme pasar mengenai keputusan Fed menahan tingkat suku bunga dekat nol setidaknya hingga 2014. Kendati ditutup turun, ketiga indeks utama masih menuju kenaikan mingguan keempat, untuk pertama kalinya sejak Desember 2010.
Selain menahan tingkat suku bunga dekat nol, Fed juga mengambil langkah historikal menetapkan target inflasi pada 2% saat merilis perkiraan ekonomi dan mengatakan akan mempertahankan langkah yang sangat akomodatif untuk mendukung pemulihan. Di tempat lain, pertemuan pemimpin politik dan bisnis dunia terus berlanjut pada World Economic Forum di Davos dengan toppik utama masih didominasi oleh krisis hutang zona Eropa. Kreditur swasta Yunani juga akan bertemu untuk memutuskan langkah apa yang akan diambil setelah proposal mereka untuk menerima haircut sebesar 50% pada obligasi pemerintah Yunani yang mereka miliki ditolak oleh pemimpin Eropa pada awal pekan ini.

Data Ekonomi AS Batasi Gain Minyak



Harga minyak naik pada hari Kamis seiring pelemahan dollar memicu selera resiko investor sehari setelah Federal Reserve AS berjanji untuk menahan tingkat suku bunga tetap rendah hingga 2014 dan meningkatkan ekspektasi untuk stimulus ekonomi tambahan. Data ekonomi AS yang mix membatasi gain minyak. Jumlah pesanan baru untuk barang manufaktur naik di bulan Desember, sementara jumlah klaim penangguran sedikit naik dan penjualan rumah turun diluar dugaan.
Outlook untuk suplai minyak juga membatasi kenaikan harga minyak. Minyak tambahan dari Arab Saudi, Irak, dan Libya akan dapat menutupi kekurangan minyak dari Iran akibat sanksi atas program nuklir milik Teheran. "Minyak diminati sebagai aset beresiko setelah janji FOMC atas suku bunga rendah hingga akhir 2014, namun produksi minyak Libya dilaporkan mencapai 1.3 juta barel per hari, pulih lebih cepat dair perkiraan dan mungkin akan menambah surplus suplai dan permintaan pada semester pertama tahun 2012," ucap Tim Evans, analis energi pada Citi Futures Perspective di New York.

Rally Emas Masih Berlanjut



Harga emas menyentuh level tinggi dalam 6 1/2 pekan pada hari Kamis seiring rally pada bursa saham, komoditas dan euro pasca Federal Reserve mengatakan rencananya untuk menahan tingkat suku bunga di rekor rendah selama beberapa tahun dan mensinyalkan penambahan stimulus ekonomi.
Berita tersebut menggembirakan investor emas, yang telah menanti kenaikan suku bunga AS, yang mana dapat mengangkat dollar dan memicu kesempatan menjual emas yang tidak terkena bunga, seiring kemungkinan rally emas akan pudar. "rally yang kuat pada emas telah mengubah persepsi sebelum pengumuman tersebut," ucap Ole Hansen manajer senior Saxo Bank. "Pernyatan dari Fed mengubah semuanya, dan kemungkin dari perkiraan rally emas hanya dapat bertahan 1 tahun lagi, saat ini rally dapat berlanjut lebih lama lagi. Tombol 'off' nampaknya masih belum akan ditekan."

ECB Menjadi Fokus Seiring Berlanjutnya Negosiasi Yunani



Negosiasi yang alot di Yunani mengenai hutang dengan kreditur swasta memasuki fase baru pada hari Kamis dengan fokus pada seberapa banyak yang harus dikontribusikan oleh ECB dan pihak kreditur lainnya. Athena, yang butuh kesepakatan secepatnya untuk menghindari default ketika obligasi jatuh tempo di bulan Maret, berharap bahwa diskusi ini akan berakhir pekan ini. Pihak negosiator untuk perbankan dan penjamin, Charles Dallara, dijadwalkan untuk bertemu Perdana Menteri Lucas Papademos pasca dkiskusi mengenai rincian teknikal.
Direktur Manajer IMF Christine Lagede pada hari Selasa mendesak ECB, mengatakan bahwa ECB dan kreditur lainnya mungkin harus menerima kerugian jika yang diderita oleh sektor swasta tidak cukup untuk menurunkan beban hutang Yunani ke level yang dapat bertahan.  Salah satu petinggi Uni Eropa juga mengatakan bahwa dibutuhkan lebih banyak dana publik untuk menutupi kekurangan pada bailout kedua Yunani setelah ada kesepakatan hutang beberapa hari kedepan. Sektor swasta pemegang obligasi menginginkan pemegang obligasi lainnya, terutama ECB yang merupakan kreditur tunggal terbesar Athena, untuk mengambil bagian pada kesepakatan swap.

Yunani & Fed Hantarkan Euro Ke Puncak 5 Pekan



Euro berhasil menyentuh level terkuat dalam 5 pekan terakhir terhadap Greenback yang melemah pada hari Kamis, dipicu spekulasi terkait negosiasi hutang Yunani dan pernyataan Federal Reserve AS yang mengindikasikan tidak akan berubahnya kebijakan suku bunga hingga setidaknya 2 tahun lagi.
Laporan beberapa media Yunani yang menyebutkan bahwa kreditur swasta bersedia menurunkan tuntutan mereka untuk memperoleh tingkat bunga 4% pada obligasi baru Yunani sebagai upaya menghindarkan negara mediterania itu dari default nampaknya telah mendongkrak performa Euro.
Namun para analis mengingatkan jika Euro masih tetap rentan, mengingat setiap berita negatif yang muncul dari negosiasi tersebut akan mendorong investor untuk kembali membeli mata uang safe haven seperti Dollar dan Yen.
"Euro nampaknya cukup terbantu oleh pemberitaan beberapa koran Yunani yang mengindikasikan jika kreditur swasta bersedia membuat penawaran yang lebih rendah," kata George Saravelos, analis forex G10 dari Deutsche Bank. "Tercapainya kesepakatan di Yunani jelas akan sangat membantu, tapi fokus pasar saat ini masih tertuju pada Fed. Dollar mungkin akan tetap berada di bawah tekanan dalam beberapa hari ke depan."
Meskipun Dollar cenderung akan terus melemah terhadap mata uang beresiko, para investor terlihat masih ragu untuk mendorong Euro terlalu tinggi mengingat masih tersisanya kekhawatiran terhadap krisis hutang di kawasan tersebut.

Aussie Menyambut Positif Rencana Rusia


Dollar Australia melesat ke level tertinggi dalam 12-minggu versus mata uang AS pada hari Kamis seiring bursa saham global beranjak lebih tinggi dan Rusia mengutarakan niatnya untuk mulai membeli mata uang negara Pasifik Selatan ini. Pelemahan Dollar AS yang dipicu komitmen Federal Reserve dalam mempertahankan suku bunga pada rekor terendah untuk waktu yang lebih lama juga mendorong para investor beralih memburu mata uang ber-yield lebih tinggi.

Bank sentral Rusia mungkin akan mulai membeli Dollar Australia sebagai cadangan devisa pada awal Februari, menurut Deputi Gubernur Pertama Alexei Ulyukayev.
"Kami baru akan memulainya, semuanya telah siap. Account telah tersedia dan perjanjian telah ditandatangani," kata Ulyukayev kepada para wartawan dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss. "Pembelian kemungkinan akan dimulai awal Februari."
Rusia berupaya melakukan diversifikasi cadangan devisa, yang ke-4 terbesar di dunia, menyusul kian terkikisnya kepercayaan terhadap Dollar AS dan Euro. Cadangan mata uang asing yang dimiliki Rusia saat ini terdiri dari 45% Dollar, 43% Euro, 9% Poundsterling dan sisanya dalam Yen serta Dollar Kanada.

Sterling Manfaatkan Pelemahan Dollar



Poundsterling melonjak ke level tertinggi 5-minggu terhadap Dollar AS yang tengah berada di bawah tekanan jual kuat pasca Federal Reserve menyatakan akan mempertahankan tingkat suku bunga mendekati nol hingga setidaknya 2014 sembari membuka peluang untuk penambahan stimulus lebih lanjut. Meski begitu beberapa analis tetap berpendapat jika rapuhnya fundamental Inggris masih akan membatasi setiap penguatan Sterling terhadap Greenback.
Hasil survey yang dilaporkan Confederation of British Industry pada hari Kamis menunjukkan jika penjualan ritel Inggris di bulan Januari mengalami penurunan tahunan terbesar sejak Maret 2009, ketika Inggris harus terperosok ke dalam resesi.
Sementara Sterling harus menyerah versus Euro seiring meningkatnya ekspektasi bahwa Bank of England akan segera menambah stimulus moneter, setelah data yang dirilis pada hari Rabu menunjukkan ekonomi berkontraksi sebesar 0,2% di kuartal ke-4 tahun 2011, yang menempatkan Inggris di ambang resesi.
"Dengan tingginya tingkat ekspor ke zona Euro, produktivitas yang lemah, dan potensi pelonggaran kuantitatif lebih lanjut dari BoE, menjadikan outlook Sterling terlihat semakin suram," kata para analis Morgan Stanley. Mereka juga masih akan tetap memanfaatkan setiap pergerakan Sterling/Dollar yang lebih tinggi untuk membangun kembali strategi bearish.

Default Yunani Tidak Berarti Bagi Perbankan AS



Dampak dari default Yunani terhadap perbankan AS dapat diabaikan, menurut CEO JP Morgan Chase Jamie Dimon. Meskipun ada kemungkinan hasil buruk di Eropa, tapi Dimon tidak khawatir atas masalah tersebut. "Dampak langsung dari default Yunani hampir nol," ujar Dimon kepada CNBC.
"Walaupun begitu, default Yunani tentu akan berdampak bagi ekonomi global yang akhirnya akan pengaruhi performa perbankan AS," tutur Dimon. “Namun, saya tidak begitu khawatir.” Dimon tidak melihat Yunani, Portugal, dan Irlandia sebagai masalah besar. "Masalah sebenarnya adalah Spanyol dan Italia," kata CEO JP Morgan tersebut.
Sementara itu, bursa saham AS masih pertahankan penguatan di sesi New York. Indeks Dow futures kini diperdagangkan 12723, tidak begitu jauh dari level tinggi harian 12782.

Data Perumahan Redam Laju WallStreet



Mayoritas saham di Wall Street terpaksa harus berbalik melemah pada hari Kamis pasca rilis data sektor perumahan AS yang lebih buruk dibandingkan ekspektasi. Kendati demikian, keputusan Federal Reserve untuk mempertahankan kebijakan suku bunga mendekati nol hingga setidaknya tahun 2014 serta beberapa laporan earnings yang cemerlang nampaknya masih meredam terjadinya penurunan lebih dalam.
Dow Jones Industrial Average sejauh ini masih bertengger sekitar 35 poin lebih tinggi dengan dipimpin saham Caterpillar dan Alcoa. Keberhasilan Dow mengakhiri perdagangan hari ini di atas level 12810.54 akan menjadikan indeks ini mencatat level penutupan tertinggi sejak Mei 2008.
Sedangkan S&P 500 dan Nasdaq harus berbalik melemah tipis dengan masing-masing kehilangan 0,08% dan 0,1%.
Serangkaian data ekonomi AS yang dirilis hari ini memperlihatkan hasil yang mixed, dengan angka klaim pengangguran mingguan mencatat kenaikan sebanyak 21.000 menjadi 377.000 sepanjang pekan lalu. Namun angka yang masih berada di bawah level 400.000 tetap cenderung mengindikasikan terjadinya perbaikan pada pasar tenaga kerja.
Data durable goods inti AS mampu melanjutkan momentum pemulihan dengan mencatat pertumbuhan 2.1% di bulan Desember, yang lebih baik dari ekspektasi pertumbuhan 0,7% dari para ekonom.
Sementara data yang dirilis paling akhir menunjukkan penjualan rumah baru di AS secara mengejutkan merosot sebanyak 2,2% menjadi 307.000 pada bulan Desember, yang merupakan penurunan pertama dalam 4 bulan terakhir.

Penjualan Rumah AS Turun 2,2%


Sektor perumahan AS sepertinya masih rasakan dampak dari krisis sub-prime mortgage yang melanda AS tiga tahun silam. Penjualan rumah (versi new home sales) turun 2,2% menjadi 307.000 unit di bulan Desember 2011; lebih buruk dari prediksi 321.000 dan revisi publikasi sebelumnya 314.000. Tingkat harga rumah juga alami nasib yang tidak jauh berbeda dengan catatkan penurunan tahunan 12,8% ke tingkat rerata $210.300. Penurunan nilai rumah tentu akan gerogoti kekayaan rumah tangga AS sehingga dapat halang konsumen untuk tingkatkan pengeluaran. Indeks Dow futures turun 20 pips setelah data dirilis; meski demikian, Dow masih bertahan di teritori positif dengan catatkan kenaikan 0,4%.

USDCHF Terperosok Ke Level Terendah 8-Minggu



Pelemahan mata uang AS pasca FOMC masih terus berlanjut pada hari Kamis, dengan Greenback memperpanjang penurunan terhadap Swissie hingga menyentuh level terendah 8-minggu baru di 0.9156. Data sektor perumahan AS yang lebih buruk dari perkiraan juga memperparah aksi jual Dollar.
USDCHF juga nampak kian tertekan menyusul beredarnya rumor tentang kemajuan yang terjadi dalam negosiasi antara Yunani dan kreditur swasta. Saat ini USDCHF ditawarkan pada kisaran 0.9165 atau sekitar 0,55% di bawah harga pembukaan hari ini.
Dari sisi teknikal, level support terdekat bagi pasangan mata uang ini mungkin dapat dijumpai pada area 0.9155/60 (low 24 Des/harian), diikuti oleh 0.9110 (low 2 Des) dan 0.9065 (low 30 Nov). Sebaliknya, level resistensi berada di area 0.9215 (high 23 Nov), kemudian 0.9260 (high 4 Okt) dan 0.9330 (high 25 Nov).

Pasar Eropa Optimis Yunani Masih Miliki Harapan


Perdagangan saham di bursa-bursa utama Eropa kembali diwarnai sentimen positif pada hari Kamis, menyusul pernyataan dovish Federal Reserve dan munculnya secercah harapan akan tercapainya kesepakatan Yunani membantu indeks saham untuk kembali melanjutkan rally 5 minggu terakhir.
Federal Reserve pada hari sebelumnya telah mengumumkan adanya kemungkinan untuk mempertahankan suku bunga mendekati nol sampai setidaknya akhir 2014, yang jauh lebih lambat dari ekspektasi investor dan komitmen Fed tahun lalu.
Indeks DAX Jerman dan CAC Perancis sejauh ini masih bertengger di zona hijau dengan masing-masing mengumpulkan 1,85% dan 1,6%. Indeks FTSE Inggris juga beranjak sekitar 1,4% lebih tinggi menjelang pembukaan sesi perdagangan AS.
Saham Carrefour, peritel terbesar ke-2 dunia, berhasil naik sekitar 6% dipicu meningkatnya spekulasi perombakan manajemen. Sedangkan produsen ponsel Nokia mampu bangkit dari kejatuhan yang terlihat di awal pekan ini, untuk melonjak hingga 5,4% setelah melaporkan laba kuartalan yang lebih baik dari perkiraan.
 Positifnya sentimen pasar hari Kamis juga disebabkan oleh laporan sebuah media yang menyebutkan bahwa kreditor swasta Yunani bersedia untuk mempertimbangkan kembali "tawaran final" mereka untuk tingkat bunga 4% pada obligasi baru Yunani, sebagai upaya membantu negara mediterania itu menghindari default.
Kendati demikian, sebagian investor masih tetap cemas dengan efek domino krisis hutang zona Euro yang beresiko mengancam Portugal. Yield obligasi pemerintah Portugal bertenor 5 dan 10-tahun kembali menyentuh level tertinggi pada hari Kamis seiring munculnya kekhawatiran jika negara ini akan membutuhkan bailout ke-2 atau restrukturisasi hutang.