Jumat, 27 Januari 2012

Mengukur Efektifitas Quantitative Easing



Pelonggaran moneter atau lazim dikenal dengan Quantitative Easing (QE) adalah kebijakan modern yang berpengaruh besar terhadap pasar investasi. Istilah QE I, II dan III identik dengan patron program yang diberlakukan oleh bank sentral Amerika Serikat. Tapi sesungguhnya bukan Ben Bernanke dan kolega yang mempelopori konsep QE untuk kali pertama.
Pelonggaran moneter menjadi langkah alternatif saat kebijakan konvensional dinilai tidak mampu mendorong roda perekonomian. Dalam hal ini, langkah penyesuaian suku bunga dinilai sudah optimal namun kondisi makro belum membaik. Bank Sentral mengimplementasikan QE dengan membeli aset keuangan atau obligasi, bertujuan untuk menyuntik dana segar ke dalam perekonomian. Dengan mengoleksi aset finansial dari bank dan sektor swasta (pencetak uang elektronik), maka jumlah uang yang beredar di lini bisnis jadi lebih banyak. Tambahan dana berarti tambahan modal bagi pelaku aktifitas ekonomi.
Seiring perkembangan iklim bisnis dan pengaruh eksternal, mekanisme peluncuran QE juga semakin kompleks. Jepang adalah negara pertama yang mempelopori prinsip QE modern di akhir 1990-an hingga 2006. Pada masanya, Bank of Japan (BOJ) menyuntik dana ke pos cadangan uang yang disimpan oleh bank-bank komersial di bank sentral. Berbagai elemen masyarakat, mulai dari investor, pengamat hingga pejabat negara sempat meragukan efektifitas kebijakan itu. Bahkan merebak asumsi jika langkah BOJ rentan menghancurkan sistem perbankan sendiri. Di awal periode 2000-an, QE memang belum mampu menekan deflasi domestik. Di tengah suku bunga super-low 0.25%, BOJ membanjiri perekonomian dengan limpahan dana pinjaman. Merasa kurang efektif , BOJ kemudian memutuskan untuk membeli lebih banyak obligasi pemerintah, sekuritas berbasis aset dan saham serta memperpanjang masa pembelian surat komersial.
Apakah QE ala Jepang berhasil? Jika mengacu pada tingkat pertumbuhan ekonomi, rasio kenaikan angka GDP Jepang memang naik konsisten antara 2002 hingga periode 2007 (lihat grafik). Kinerja GDP jauh lebih baik ketimbang apa yang dicapai pemerintah di awal 1990-an, beberapa saat setelah kasus penggelembungan aset melanda negara tersebut.


Mengacu pada argumen Tomoya Masanao, anggota Asia-Pacific Portfolio Committee, pemulihan kinerja perbankan Jepang sangat dipengaruhi oleh kebijakan QE bank sentral. Kombinasi antara suku bunga rendah dan penurunan risiko premium berhasil mengangkat aktifitas bisnis dan investasi. Kondisi ini berimbas pada kenaikan upah riil, yang kemudian berperan memperbaiki daya beli konsumen. Kesimpulannya, QE mampu mendorong volume permintaan dalam negeri. Anggota Dewan Gubernur Bank of England, David Miles, turut mengamini pendapat Masanao. Miles melihat QE tidak hanya memajukan aktifitas keuangan, namun turut menopang ekonomi warga, usaha kecil, pabrik dan pendapatan rumah tangga.



Meski demikian bukan berarti langkah pelonggaran kuantitatif tidak mengandung kelemahan dan potensi negatif. Sistem murni perbankan bisa menjadi mandul saat bank-bank lebih memilih untuk bertransaksi dengan bank sentral ketimbang dengan sesama kolega perbankan. Senior ekonom BOJ, Shigenori Shiratsuka memiliki beberapa catatan penting terkait pengalamannya memandu implementasi QE Jepang. Pertama, QE melibatkan neraca keuangan bank sentral untuk melindungi perekonomian dari gejolak yang mungkin ada. Ke dua, sifatnya hanya sementara. QE difungsikan sebagai alat untuk mengulur waktu sampai sistem dan lembaga perbankan kembali menemukan ritme operasionalnya. Bank juga harus terlebih dahulu me-restrukturisasi neracanya masing-masing supaya tidak tergantung pada kebijakan otoritas. Ke tiga, intervensi bank sentral di sektor swasta justru memberi distorsi ke pasar.
Secara empiris, QE memang mampu memperbaiki sistem perbankan dan pertumbuhan ekonomi. Namun pengaruhnya hanya efektif bila kondisi perekonomian makro mendukung kepercayaan bank, perusahaan, investor dan konsumen. Pelonggaran moneter di Amerika sesungguhnya belum tentu mampu menggenjot perekonomian. Berbeda dengan kondisi saat QE Jepang, sistem perbankan AS saat ini tidak kekurangan likuiditas. Konsumen juga tidak membutuhkan pinjaman baru, mereka bahkan perlu keluangan untuk melunasi beban hutangnya. Bank dan perusahaan masih terlalu gelisah, terutama pasca kasus subprime mortgage dan krisis antar kawasan. Artinya, AS belum memiliki modal awal yang cukup untuk membangun suatu iklim kondusif bagi semua pelaku ekonomi. Jika pemerintah dan bank sentral sudah berhasil menumbuhkan kepercayaan publik, sejatinya QE akan jadi solusi efektif bagi ekonomi Paman Sam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar